Kenapa APOPS Method ada
Saya bayar jutaan rupiah buat belajar ini.
Saya Andya Berna. Udah lebih dari 22 tahun saya kerja di marketing dan teknologi, sebagai CMO dan CTO (kepala marketing dan kepala teknologi). Saya ngebangun dan ngelola lebih dari 5 Web SaaS, aplikasi web yang dipakai pelanggan dengan berlangganan.
Jadi waktu mulai ngoding pakai AI, saya kira bagian ini bakal gampang.
Ternyata ga.
Saya cuma pengen project cepat selesai. Tapi lagi bikin fitur, jatah habis. Lagi benerin error, jatah habis. Lagi revisi, jatah habis.
Pilihannya selalu sama: nunggu, atau bayar lagi.
Saya pilih bayar. Totalnya pernah sampai jutaan rupiah.
Yang lebih mahal dari uangnya: ide saya keputus di tengah jalan, dan kepala saya sibuk ngitung sisa jatah, bukan mikirin project.
Itulah kenapa saya berhenti nyari prompt yang lebih bagus, dan mulai ngatur urutan kerjanya.
Urutan itu yang dipakai buat ngebangun MATIQ, POSTR, LANDR dan THREX. Bentuknya ada di bawah.
Di salah satu dokumentasi prosesnya, indikator usage nunjukin 100% tanggal 23 Agustus. Project-nya tetap lanjut, tanggal 26 Agustus masih jalan. Ga naik paket. Ga beli jatah tambahan.
Itu satu proses yang didokumentasikan, bukan janji buat semua project.
Urutan kerja itu yang sekarang saya ajarin, namanya APOPS Method.